Seperti yang pernah gue bilang dulu, hidup itu kumpulan dari
potongan potongan yang sederhana. Hanya saja terasa lucu ketika
potongan-potongan yang sederhana itu begitu membingungkan pada akhirnya,
tentang semua rasa yang membuat hidup ternyata tidak lagi sesederhana biasanya.
Entah mengapa hidup selalu seperti itu, membiarkan
orang-orang dengan mudahnya masuk dan menjadi bagian penting dalam hidup kita.
Entah mengapa kehidupan selalu seperti itu, memaksa seseorang untuk berhenti
disaat ia justru tak ingin berhenti. Entah mengapa kehidupan selalu seperti
itu, membuat sesuatu yang sederhana menjadi begitu rumit, dan tak pernah adil.
Entah mengapa hidup selalu seperti itu, membuat sesuatu yang
sederhana menjadi sangat rumit. Gue bingung kenapa ada begitu banyak orang yang
mempersoalkan tentang “label”, orang bilang sebuah kejelasan akan sebuah
hubungan, orang bilang sebuah jawaban yang ditunggu setiap orang ketika mereka mulai
menjajaki sebuah hubungan untuk menamai sebuah
kegilaan, orang bilang mereka membutuhkannya karna takut akan
kehilangan, orang bilang mereka membutuhkannya karena itu akan merubah status
hubungan di facebook mereka atau mungkin bio di twitter mereka –lalu jika
diubah untuk apa? Toh itu itu bukan hidup mereka-. “label”.
Aku bilang itu sebuah kejelasan yang penuh dengan pemikiran
dan menghapuskan semua kebahagiaan yang tercipta tanpa kejelasan. Aku menyebutnya sebuah ikatan tak terlihat
yang kemudian membatasi setiap gerak, kata dan rasa.
Entah mengapa hidup selalu seperti itu, membuat sesuatu yang
sederhana menjadi sangat rumit. Bukankah selama ini orang dapat tetap
berbahagia tanpa sebuah label,? Lalu kenapa membuatnya menjadi demikian
sulit??? Kenapa masih banyak orang-orang yang menghabiskan hari-harinya untuk
mengilai seseorang dan mengajar sebuah label, tak sedikit pula orang-orang yang
harus tersakiti demi ambisi mendapatkan sebuah label, tak sedikit yang akhirnya putus asa, membenci
bahkan mendendam karna sebuah label itu harus dilepas pada akhirnya. Bukankah tak
berpangkal dan tak berujung itu lebih baik???
Lantas mengapa semua orang masih terus mempersoalkannya, tak
adakah yang mengingatkan merintis sebuah hubungan harus siap untuk terluka? mengobati
luka? dan kehilangan sebagian besar kebebasnany? –mungkin mereka sudah tau- tapi terus mengejarnya. sepertinya orang-orang
itu merasa sangat puas ketika tersakiti, merasa sangat berarti ketika mereka
merasakan perih. Bodoh atau sayang? entahlah, mereka terlihat seperti orang-orang
saiko yang tak pernah puas dengan luka.!
Gue nggak apa yang sebenernya membuat hidup jadi demikian
rumit. Orang gila aja bisa tetep hidup tanpa harus berpikir ~sederhanakan?~,
kenapa justru orang-orang waras membuat hidup justru lebih keliatan gila. Gak
ngerti kenapa kenyamaanan justru datang tanpa kita sadari dan pelan-pelan
membuat kita menjadi seorang anak manja
terbiasa untuk tidak sendiri, terbiasa untuk selalu didengarkan.
Entah mengapa hidup selalu seperti itu, saat kita terlena
untuk menikmati hidup layaknya putri yang tak pernah lagi sendiri, saat kita
sudah menjadi terlalu manja, dan tak tahu lagi bagaimana caranya mandiri lagi,
kita justru menghadapi kenyataan bahwa semua kenyamanan kita berlalu begitu
cepat.
Kita nggak pernah meminta untuk dimanjakan, tapi membiasakan
diri, lalu ketika sudah sangat terbiasa, seketika kita sadar orang yang memanjakan
kita akan segera pergi, karna mereka akan segara punya dunianya sendiri. Dan kita
harus menyingkir, tak ingin jadi pengganggu. Dan kita sekali lagi harus merintis
kemandirian itu dari nol. ~curang~
Entah mengapa hidup selalu seperti itu, penuh dengan masalah
yang tidak bisa disederhanakan. Entah mengapa, rasanya lebih nyaman untuk duduk
diam di depan sebuah laptop lalu meminum secangkir kopi, lalu pura-pura tidak
tahu apa-apa tentang dunia yang rumit. Menutup mata, telinga dan membiarkan semua berjalan seperti
sewajarnya. Di banding menjadi orang bijak yang tahu semua tentang dunia lalu khawatir
tentangnya setiap detik, takut di tinggal, takut di duakan, takut dikalahkan,
takut menjadi diri sendiri, takut dengan kata orang, takut untuk mati, bahkan
takut untuk hidup –lalu mau jadi apa?????? Jika untuk hidup saja sudah takut-
Pada akhirnya kewarasan manusia masih tetap dipertanyakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar